Sosialisasi Peraturan Badan POM Nomor 22 Tahun 2022 tentang tentang Penerapan 2D Barcode dalam Pengawasan Obat dan Makanan

Dunia tengah menghadapi era revolusi industri 5.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi secara massal dalam berbagai sektor kehidupan. Pada era ini segala sesuatu dituntut dapat dilakukan dengan cepat, efektif, serta efisien. Tak terkecuali dalam sistem pengawasan obat dan makanan.

Saat ini pengawasan obat dan makanan tengah menghadapi tantangan dalam menghadapi era revolusi industri. Semakin besarnya tantangan tersebut menuntut kemudahan proses identifikasi legalitas produk, peningkatan pengawasan produk beredar, serta partisipasi aktif pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat. Tantangan era revolusi industri serta cakupan wilayah pengawasan di Indonesia yang begitu luas mendorong Badan POM untuk melakukan inovasi pengawasan khususnya di bidang obat tradisional, obat kuasi, suplemen kesehatan, dan kosmetik.

Salah satu terobosan Badan POM dalam menjamin keamanan, kemanfaatan, dan mutu produk obat tradisional, obat kuasi, suplemen kesehatan, dan kosmetik yang beredar adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan pengawasan melalui penerapan 2D Barcode. Sistem ini merupakan representasi grafis dari data digital dalam format dua dimensi berkapasitas decoding tinggi yang digunakan untuk identifikasi, penjejakan, dan pelacakan. Tujuan penerapan 2D barcode dalam pengawasan adalah untuk meningkatkan kualitas, efektivitas, dan efisiensi pengawasan obat dan makanan yang beredar di masyarakat.

Penerapan 2D Barcode dalam identifikasi produk memberikan kemudahan bagi petugas dalam melakukan identifikasi terkait legalitas produk serta dapat membantu pelaku usaha dalam meningkatkan Brand Reputation. Penerapan 2D barcode di era digital yang begitu dinamis dan cepat dalam perkembangannya perlu dilakukan penyesuaian terhadap regulasi 2D Barcode di bidang obat dan makanan. Dalam hal ini, diperlukan revisi terhadap Peraturan Kepala Badan POM Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penerapan 2D Barcode Dalam Pengawasan Obat dan Makanan.

Dengan telah diundangkannya Peraturan Badan Pengawas Obat Dan Makanan Nomor 22 Tahun 2022 Tentang Penerapan 2D Barcode Dalam Pengawasan Obat Dan Makanan, maka perlu dilakukan sosialisasi kepada asosiasi dan pelaku usaha di bidang obat tradisional, obat kuasi, suplemen kesehatan, dan kosmetik, petugas BPOM di seluruh Indonesia serta lintas sektor terkait untuk penyamaan persepsi serta mempermudah pemahaman sehingga norma yang diatur didalamnya dapat diimplementasikan di lapangan. Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik sebagai salah satu unit di BPOM yang salah satu tugasnya adalah melakukan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang standardisasi obat tradisional, obat kuasi, suplemen kesehatan, dan kosmetik bermaksud melakukan Sosialisasi terhadap Peraturan Badan Pengawas Obat Dan Makanan Nomor 22 Tahun 2022 Tentang Penerapan 2D Barcode Dalam Pengawasan Obat Dan Makanan. Selain itu, sosialisasi ini juga dilakukan dalam rangka implementasi UU No. 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu No. 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang untuk mendukung kemudahan berusaha bagi pelaku usaha