Dialog Sinergisme Percepatan Pengembangan Obat Bahan Alam: Mendorong Kolaborasi Lintas Sektor di Medan
Medan, 5 September 2024 – Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik bersama Balai Besar POM Medan menggelar acara "Dialog Sinergisme Percepatan Pengembangan Obat Bahan Alam" dengan tema “Dukungan Pengembangan Obat Bahan Alam Berbasis Penelitian dan Empiris”. Acara ini mencerminkan komitmen Badan POM dalam mempercepat pengembangan industri obat bahan alam berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.
Acara ini bertujuan menghimpun masukan dari berbagai sektor, mulai dari peneliti, pelaku usaha, hingga pemerintah, guna membahas rancangan pedoman ekstraksi dan evaluasi data empiris, serta mengevaluasi implementasi regulasi terkait uji praklinik dan uji klinik yang diatur BPOM. Program unggulan SIMANTAP (Sinergi Manajemen Tingkatkan Aspek Produktivitas Obat Bahan Alam, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik) menjadi fokus utama diskusi. Program ini diharapkan meningkatkan pemahaman dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam mengembangkan produk obat bahan alam berkualitas.
Drs. Martin Suhendri, Apt., M.Farm, Kepala BBPOM Medan, menekankan pentingnya Medan sebagai lokasi strategis pertama untuk dialog ini, mengingat potensi besar wilayahnya dalam memanfaatkan sumber daya alam herbal. Sebanyak 55 spesies tanaman dengan khasiat empiris ditemukan di wilayah ini, di mana 12 spesies direkomendasikan sebagai bahan baku obat tradisional.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber utama: Dian Putri Anggraweni, S.Si, Apt., M.Farm, Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik; Imam Bagus Sumantri, Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara; serta Sutristo, perwakilan dari PT Akar Rimba Nusantara (ARN).
Dian Putri Anggraweni menggarisbawahi tantangan utama dalam pengembangan Obat Bahan Alam (OBA), termasuk rendahnya minat budidaya tanaman obat, keterbatasan akses informasi pasar, dan minimnya penelitian ilmiah. BPOM terus memperkuat regulasi, mulai dari uji praklinik hingga standardisasi produk, untuk memastikan keamanan, khasiat, dan mutu produk OBA. Sinergi lintas sektor dan program SIMANTAP diharapkan mampu mempercepat hilirisasi dan daya saing produk dalam negeri.
Imam Bagus Sumantri menyoroti pentingnya standar pengujian yang valid dan kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan bahwa keterbatasan akses terhadap marker dan lamanya proses persetujuan uji praklinik serta klinik menjadi tantangan utama. BPOM terus mendukung inovasi dengan memperkuat regulasi terkait uji farmakodinamik, toksisitas, dan registrasi, guna mendorong hilirisasi produk OBA menuju Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka.
Sutristo dari PT Akar Rimba Nusantara menjelaskan kolaborasi perusahaannya dengan perguruan tinggi dan pemerintah dalam pengembangan produk berbasis ikan gabus. Riset ini mencakup budidaya ikan gabus untuk menjaga keberlanjutan bahan baku dan mengembangkan manfaat farmasi, seperti penyembuhan luka dan pencegahan stunting. Dukungan dari BPOM dan Kementerian Kelautan sangat penting dalam aspek regulasi dan kemitraan budidaya.
Melalui dialog ini, BPOM berupaya menciptakan sinergi yang kuat antara akademisi, industri, dan pemerintah untuk memajukan industri obat bahan alam Indonesia. Diskusi ini juga diharapkan dapat membuka jalan bagi penyempurnaan regulasi yang mendukung perkembangan industri obat tradisional di masa mendatang.